Banjir dan Revisi Drainase Kota


(tulisan ini sudah dimuat di Harian Fajar Makassar, akhir tahun 2012)

Ardy Arsyad

Dosen Teknik Sipil UNHAS Makassar

Peneliti pada Institut Rekayasa Infrastruktur Berkelanjutan (IRIB)

 

 

Banjir yang mendominasi landsekap kota Makassar di awal tahun ini terasa begitu menyentak kesadaran publik kita. Bukan karena banjir, yang sebagian pihak di-eufemis-kan sebagai genangan air, adalah proses perulangan yang telah dianggap biasa dan malah lumrah terjadi di musim hujan, tapi karena belum adanya strategi yang jelas dan konkrit dalam memecahkan persoalan banjir ini.
Ketika banjir terjadi maka berbagai alasan selalu berujung pada cuaca ekstrim di musim penghujan, masih belum tuntasnya pengerukan sedimen pada selokan kota, kurangnya koordinasi antar instansi terkait, dan berkurangnya daerah resapan air oleh ekspansi infrastruktur dan permukiman.

Upaya penanganan banjir di kota Makassar tidak akan dapat menuntaskan persoalan jika hanya berputar pada upaya periferal pembersihan dan penggalian sedimen di saluran dan kanal. Hal ini dikarenakan karena jaringan dan dimensi saluran drainase kota ini sudah tidak memadai untuk melayani perkembangan kota yang semakin pesat. Apalagi sistem drainase kota yang dibuat tahun 1985 ini selama hampir 30 tahun tidak diperbaharui, meskipun pada tahun 2004 sempat dibuat masterplannya. Bukan tidak mungkin, drainase kota sudah expired (kadaluarsa), namun meminjam penjelasan Ikhsan Mukrim, sesama peneliti pada IRIB, tidak bisa dikatakan kadaluarsa karena “barang” hasil pengejawantahan masterplan 2004 saja belum ada atau belum dilaksanakan.

Drainase primer kota Makassar bertumpu pada tiga saluran utama (kanal) yaitu Saluran Pannampu, Jongaya, dan Sinrijala. Tiga saluran ini melayani “kota lama” yang membentang dari Selatan ke Utara Kota. Sementara pusat-pusat perkembangan “kota baru” seperti kawasan Tamalanrea dan Biringkanaya (Area Urban 5) memiliki saluran pembuangan yang berujung pada Sungai Tallo dan Sungai Bone Tanjore. Kompleks Perumnas Antang 1 dan 2 memiliki saluran Pembuangan Antang yang bermuara di Sungai Pampang. Begitupula dengan kompleks permukiman perumnas yang memiliki Saluran Pembuangan Perumnas bermuara di Sungai Pampang.
Drainase kota yang bertumpu pada kanal besar (Jongaya, Pannampu dan Sinrijala) sepanjang hampir 16 km ini sudah mengalami penurunan layanan penyaluran air yang diakibatkan proses sedimentasi dan sampah. Sedimentasi sudah mencapai berada pada taraf yang cukup tinggi, dari 20% hingga 50% kedalaman kanal. Bahkan ada bagian dari kanal bisa mencapai pendangkalan 70% dari kedalamannya (Rauf et al, 2011).

Ini berarti kapasitas dari kanal tersebut sudah jauh dari yang direncanakan semula. Kanal di kota Makassar bermuara ke laut kecuali Sinrijala yang ke Sungai Pampang. Fungsi pengaliran kanal-kanal ini sangat dipengaruhi pula oleh kondisi pasang surut laut. Jika dalam kondisi pasang dan bertepatan dengan cuaca ekstrim (badai hujan) maka proses pengaliran limpasan air ke laut akan mengalami waktu delay yang cukup lama. Dan inilah yang akan mengakibatkan genangan air di beberapa lokasi di kota Makassar.

Proses sedimetasi dalam bentuk suspended load dan bed load pada saluran drainase kota disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya debu dan tanah dari jalan yang terbawa oleh gerusan air hujan, sampah padat yang dihasilkan dari rumah tangga dikarenakan sistem drainase yang menyatukan air kotor dan air hujan serta prilaku masyarakat yang kurang kondusfi dalam memelihara saluran terbuka ini.

Sedimentasi ini berlangsung lama dan tidak mengalami pembersihan baik dari jalan, selokan, dan kanal. Pemeliharaan drainase kota masih dilakukan sebatas pembersihan saluran dari sampah ketimbang melakukan pengerukan sedimen saluran. Keterbatasan dana adalah alasan utamanya. Selain masalah sedimentasi dan sampah pada saluran drainase di kawasan ini, terdapat pula beberapa penyempitan saluran dikarenakan gorong-gorong/duijker yang terlalu rendah atau bahkan ada yang diatas saluran drainase menggunakannya sebagai tempat usaha.

Persoalan sedimentasi pada drainase kota yang bertumpu pada kanal Jongaya, Pannampu dan Sinrijala pada kawasan kota lama berbeda halnya dengan masalah drainase di kawasan kota baru. Pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi terjadi di kawasan kota baru ini seperti Tamalanrea, Manggala, Biringkanaya, dan Panakkukang. Akan tetapi menjamurnya permukiman dan pusat ekonomi di kawasan ini tidak disertai oleh sistem drainase yang memadai.

Pola pembangunan kawasan permukiman memang mengalami anomali. Dalam prosedur standar yang banyak dilaksanakan di negara maju, pematangan lahan dan pembangunan infrastruktur adalah dua hal yang wajib dilakukan sebelum melaksanakan konstruksi perumahan dan gedung. Pematangan lahan biasanya dilakukan dengan menstabilkan secara geomekanik lahan-lahan yang biasanya bertumpu pada tanah lunak dan labil. Setelahnya, jaringan listrik, saluran air bersih dan air kotor, drainase air hujan, dan jaringan jalan dapat dibangun. Ketika kesemua infrastruktur telah tersedia, maka permukiman dan kawasan bisnis dapat dibangun.
Namun yang terjadi adalah kebalikannya. Sebagian besar perumahan dibangun tanpa mematangkan lahannya, dan menyelesaikan fasilitas infrastruktur yang memadai. Kesemuanya ini kembali ke pertimbangan cost-benefit dalam proyek-proyek permukiman. Yang lebih parah lagi, pihak developer biasanya mencari lahan murah walaupun itu termasuk dalam daerah rawa, atau daerah aliran sungai. Lokasi yang menjadi “tempatnya air” dibangun permukiman tanpa melakukan rekayasa drainase yang tepat pada akhirnya menjadi langganan banjir. Dan konsekuensinya dipikul oleh warga yang sebenarnya kurang menyadari masalah ini.

Tawaran Solutif

Adalah tidak mungkin untuk membiarkan masalah banjir ini menjadi masalah rutin dan diperbincangkan setiap tahunnya. Apatah lagi dijadikan issu politik menjelang pemilihan gubernur mendatang. Perlahan namun pasti, masalah banjir akan menguap seiring dengan pergantian musim ke musim kemarau.

Akan tetapi, masalah banjir adalah masalah kita semua, baik pemerintah maupun masyarakat. Drainase kota juga merupakan tanggung jawab pemerintah dari level Kementrian PU (Balai Wilayah Sungai), Dinas Pengairan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota. Ibarat jalan raya, saluran drainase juga memiliki otoritas yang berbeda. Dan kembali ke soal klasik, koordinasi yang baik antara instansi tersebut plus masyarakat sangat dibutuhkan.

Solusi jangka pendek yang bisa ditawarkan adalah mendesaknya perbaikan saluran drainase kota. Sedimentasi yang mengurangi kapasitas pengaliran kanal membutuhkan pengerukan dan tidak sekedar pembersihan sampah. Hambatan-hambatan pengaliran berupa gorong-gorong yang rendah misalnya harus dinormalisasikan. Inlet drainase pada jalan-jalan yang biasanya tergenang air harus diperbanyak dan diperbesar. Jika memungkinkan, elevasi muka jalannya ditinggikan namun ini tidak selalu menuntaskan masalah karena peil lantai rumah disekitarnya akan selalu menjadi lebih rendah daripada jalan raya.

Daerah permukiman yang menjadi langganan banjir karena berada di daerah rawa sebaiknya dipindahkan. Namun jika memiliki biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit, maka permukiman yang sudah eksis tersebut perlu melakukan peninggian peil lantai rumah hingga di atas muka air banjir maksimum dalam periode tertentu dan dilakukan pembangunan tanggul dan saluran yang memadai.
Solusi jangka panjang

Jika memang arah revisi masterplan drainase kota Makassar akan dilakukan tahun ini, maka setidaknya hal ini akan menjadi solusi jangka panjang dimana dampaknya baru bisa dirasakan 5-10 tahun mendatang. Saluran drainase dengan kombinasi antara open dan closed channel, dengan adanya pemisahan saluran air kotor (wastewater) dan air hujan (stormwater) bisa menjadi alternatif sistem drainase kota Makassar. Jika terkendala biaya, combined sewer overflow (CSO) bisa menjadi alternatif yang layak kita coba.
Penggunaan saluran tertutup terutama di daerah padat penduduk akan mengurangi proses sedimentasi dan penyampahan. Saluran tertutup juga akan mengurangi penggunaan ruang/lahan untuk drainase yang kemudian bisa digunakan untuk parkir, jalan raya dan infrastruktur lainnya. Pemisahan antara saluran air kotor dan air hujan dengan fasilitas water treatment plant (WTP) akan dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Bisa dibayangkan buangan air kotor se-Makassar yang masuk ke Sungai Tallo dan akhirnya mencemari pantai Makassar. Dengan WTP, pencemaran ini bisa dihentikan atau minimal dikurangi. Beban polutant yang sedemikian tingginya akan menjadi masalah lingkungan yang serius jika tidak ditangani dari sekarang.

Penggunaaan drainase natural perlu juga diadaptasi. Permukiman yang tersebar dengan sistem drainase yang belum berintegrasi sudah seharusnya membangun sistem drainasenya sendiri dengan sistem separate sewer plus WTP. Kawasan permukiman perlu mengembangkan sustainable drainage system (SUDS) dengan perbesaran daerah resapan dengan struktur infiltration trench, pavement di area parkir dan jalan lingkungan sebaiknya menggunakan struktur yang bisa meresapkan limpasan air permukaan (Butler and Davis, 2004), bukan dengan jalan beton yang sekarang sedang nge-trend.

Pembangunan danau-danau buatan atau situ di kawasan permukiman sangat dianjurkan. Hal ini bukan saja untuk kawasan rekreasi tapi sangat efektif untuk fungsi storage dari air hujan. Danau buatan bisa menjadi pengontrol polutant pada limpasan air permukan lewat proses sedimentasi dan biologi. Danau buatan bisa berfungsi penahan limpasan air hujan ketimbang selalu menyalurkannya langsung ke Sungai Pampang dan Tallo yang akan menambah beban penyalurannya.

Dalam skala yang lebih luas, kawasan rawa terutama di dekat daerah permukiman perlu dijaga dan dikelola dengan baik, bukan lagi direklamasi hanya karena tanah di kawasan rawa sangat murah. Pemerintah harus menegakkan aturan larangan membuat permukiman di kawasan rawa dan juga daerah aliran sungai.

Pada akhirnya, tawaran solusi ini kiranya bisa menjadi masukan bagi pemerintah dan masyarakat luas. Banjir yang saban tahun menjadi masalah bagi kita semua sudah memberi penegasan bahwa ada hal yang tidak benar dalam pengelolaan infrastruktur dan lingkungan kita. Olehnya itu, momentum banjir pada beberapa hari ini adalah saat dimana kita memperbaiki lingkungan dan saluran drainase dimana kita berada.

Wallahu a`lam bisshawab.

Advertisements
Posted in Catatan kecil dari kampus
One comment on “Banjir dan Revisi Drainase Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Disclaimer
Catatan di blog ini hanyalah pandangan personal, dan tidak mewakili kebijakan lembaga tempat saya bekerja dan meneliti. Didasari pada kegemaran pada masalah-masalah kebumian, maka saya mencoba menuliskan atau mendokumentasikannya. Sebab, menulis adalah cara mengorganisir informasi agar terbenam di alam pemahaman. Isi blog bisa direprodduksi sepanjang mencantumkan sumber sitasinya. Semoga bermanfaat... Terima kasih
Viewers
  • 33,960 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 52 other followers

April 2013
M T W T F S S
« Aug   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d bloggers like this: